Lahan Wakaf “RAHMAH” dan Mahasantri AsQu

Bulan ini genap satu tahun enam bulan Baitul Maal Khatulistiwa (Bilistiwa) diamanahi lahan dan gedung wakaf “RAHMAH”, yang berlokasi di Pasar Gasib, Kabupaten Siak. Seorang Hamba Allah mewakafkan 11 hektar lahan beserta gedung dua lantai di atasnya melalui Bilistiwa pada Desember 2019 lalu, secara cuma-cuma, hanya mengharap ridha Allah Azza wa Jalla. Dari 11 hektar luas lahan, 9 hektarnya sudah ditanami sawit produktif. Sementara 2 hektarnya lagi ditanami tanaman toga dan buah-buahan, seperti sereh wangi, pandan, kurma, tin, anggur, gaharu, lengkeng, durian, dan lain sebagainya.

Gedung dua lantai yang kokoh berdiri di lahan wakaf itu, kini menjadi asrama ikhwan bagi para mahasantri Asrama Qur’an (AsQu). Pada mulanya, dititipkan tiga orang mahasantri AsQu dan seorang muhafidz di lahan wakaf ini sebagai bagian dari program percepatan. Program tersebut merupakan program yang memfokuskan mahasantri untuk menambah hapalan lebih banyak dan lebih cepat dari biasanya. Selain memberikan ruang yang lebih tenang bagi para mahasantri, penempatan mereka di lahan wakaf ini juga sebagai bentuk tanda syukur keluarga besar Bairuha kepada Allah Azza wa Jalla. Semoga, dengan penempatan para penghapal Qur’an di lahan wakaf ini, InsyaAllah bertambah keberkahannya sehingga dipermudah proses pengolahan dan pemanfaatan lahan dan gedung wakaf ini di jalan Allah. Aamiin, ya Mujiibassailin.

Usai menjalankan program percepatan hapalan di Asrama “RAHMAH”, muhafidz dan satu orang mahasantri kembali ke Asrama Qur’an Pekanbaru, sementara dua orang sisanya tetap di sana. Kini, ada enam mahasantri AsQu yang menghidupkan Asrama “RAHMAH” dengan gema bacaan Qur’an. Keenam orang tersebut adalah dua mahasantri angkatan pertama dan empat mahasantri angkatan kedua. Kegiatan mahasantri di Asrama “RAHMAH” saat ini terfokus pada aktivitas menambah hapalan dan muraja’ah. Mahasantri juga dituntun melakukan amalan-amalan lainnya seperti mendirikan shalat berjama’ah, shalat dan puasa sunnah, dzikir pagi dan petang, dan lain sebagainya. Amalan-amalan ini perlu ditanamkan kepada para mahasantri sebab keafdhalan ilmu penghapalan Qur’an bukan terletak pada hapalannya, melainkan pada amalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *