Rahasia Bulan Ke-11 Untuk Keberkahan Bulan ke-12

Dzulqa’dah adalah bulan ke-11 dalam urutan tahun hijriah. Bulan ke-11 ini termasuk dalam rangkaian bulan haram dari empat bulan yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mempertegas firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS. At-Taubah 9: ayat 36. Keempat bulan haram tersebut terdiri dari tiga bulan yang berurutan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dan satu bulan terpisah (Rajab).

Kata “haram” berasal dari kata “hurmatun”. Turunannya “haram”, “mahram”, “muhrim”, “al-muharram”. Secara harfiah, haram berarti yang tinggi, yang punya marwah, yang berkedudukan. Inilah yang menjadi alasan mengapa keempat bulan istimewa ini disebut bulan haram. Pada bulan ini, kita dilatih untuk menjaga kehormatan, wibawa, dan marwah kita, minimal di hadapan Allah SWT, dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan zhalim.

Lantas, bagaimana cara meninggalkan perbuatan zhalim di bulan-bulan haram? Cara paling mudahnya adalah mengisi bulan haram dengan amal shaleh. Namun, untuk membiasakan diri beramal shaleh pun ada triknya, yakni dengan memahami esensi bulan haram, keistimewaannya, serta kebaikan-kebaikan dari amalan shaleh itu sendiri.

Bulan Dzulqa’dah merupakan bulan haram yang bergandengan dengan dua bulan haram lainnya, yakni bulan Dzulhijjah dan Muharram. Pada bulan Dzulhijjah, ada amalan besar yang sudah umum diketahui umat muslim. Amalan ini bahkan masuk ke dalam rukun Islam, yakni rukun kelima, ibadah Haji. Bukankah itu adalah mimpi semua umat muslim untuk mendapatkan haji yang khusyuk serta mabrur? Namun, kekhusyukkan ibadah haji tidak serta merta bisa kita dapatkan ketika masuk musim haji. Ada bekal yang harus kita persiapkan jauh sebelum memasuki musim haji. Bekal tersebut dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah 2: ayat 197, “Bawalah bekal, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”

MasyaAllah, Tabarakallah. Begitu sempurna Allah menyusun segala sesuatu di dunia ini. Allah tempatkan bulan haram Dzulqa’dah sebelum musim haji di bulan Dzulhijjah, untuk memudahkan hamba-Nya menggapai ridha Allah. Dengan ridha-Nya, InsyaAllah akan dimudahkan pula segala persiapan hamba-Nya dalam menghadapi musim haji. Bahkan Allah tetap membuka kesempatan bagi mereka yang belum mampu berhaji, yakni dengan ibadah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah, yang puncaknya nanti adalah ibadah Qurban pada hari kesepuluh Dzulhijjah.

Lalu, apa keistimewaan bulan haram Dzulqa’dah?

Pertama, bulan ini datang mendahului bulan Dzulhijjah, sehingga menjadi pijakan awal untuk mendongkrak amalan shaleh. Kedua, bulan haram Dzulqa’dah juga memiliki keistimewaan pahala yang dilipatgandakan. Segala kebaikan yang kita lakukan di bulan ini, mulai dari kecil sampai yang besar, dari yang ringan dikerjakan sampai yang paling berat dikerjakan, semuanya InsyaAllah akan dibalas pahala yang berlipat-lipat. Di antara amalan yang sering dilakukan oleh banyak ulama di bulan-bulan haram adalah memperbanyak puasa sunnah, seperti yang dicontohkan oleh salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni Abdullah bin Umar, anak dari Umar bin Khattab.

Selain berpuasa sunnah, para sahabat dan ulama juga mencontohkan untuk memperbanyak shalat sunnah, berdoa, dzikir kepada Allah dan bersedekah. Amalan-amalan ini apabila kita kerjakan di bulan haram dengan niat tulus mengharap ridha Allah, insyaAllah akan memudahkan kita untuk beramal shaleh di bulan-bulan istimewa selanjutnya.

Agar semakin mudah mengerjakan amal shaleh, kita juga harus tahu bahwa di bulan haram tidak hanya amalan baik yang dilipatgandakan balasannya, melainkan juga amalan buruk.  Dalam QS. At-Taubah 9: ayat 36, Allah berfirman “Janganlah kamu zhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” Ini artinya ada anjuran untuk menjauhi segala perbuatan yang mendatangkan dosa, sebab perhitungan semua amalan di bulan-bulan haram ini berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Abbas rahimahullah, “Dosa di bulan empat haram dilipatgandakan oleh Allah.”

Sahabat iMAAL, dengan mengetahui hakikat dan keistimewaan bulan haram, yang salah satunya adalah bulan Dzulqa’dah, serta memahami kebaikan-kebaikan amalan yang bisa kita lakukan di bulan ini, maka sudah sepantasnya kita memaksakan diri untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Jika pada hari-hari biasa kita hanya mengerjakan shalat wajib, maka di bulan ini kita berusaha menambah shalat sunnah. Jika biasanya kita hanya puasa Senin dan Kamis, maka di bulan ini kita tambah dengan puasa Ayyamul Bidh. Jika biasanya kita ikut kajian sekali sebulan, maka tidak ada salahnya kita alokasikan waktu lebih banyak untuk ikut kajian sekali atau dua kali sepekan. Semuanya tentu harus kita lakukan semata-mata untuk menggapai ridha Allah, agar di bulan ke-12 nanti kita bisa mencapai ibadah haji atau qurban yang mabrur.

Semoga dengan memaksimalkan amalan-amalan kecil di bulan haram Dzulqa’dah ini, insyaAllah dapat menurunkan keberkahan bulan Dzulhijjah serta keberkahan sepanjang masa sampai akhirat kelak. Untuk itu, marilah kita kuatkan tekad untuk menjadi contoh yang baik untuk lingkungan, keluarga dan anak-anak kita. Kita tekadkan pula untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, lalu mengamalkan dan menyebarluaskannya. Tidak lupa kita maksimalkan sedekah sebagai amal jariyah yang insyaAllah kelak menjadi pemberat timbangan amal shaleh kita.

Yuk, Sahabat iMAAL! Salurkan wakaf, infaq dan sedekah terbaik di bulan baik ini dengan mendukung program-program iMAAL. InsyaAllah, harta kita dapat kita bawa mati sebagai tabungan akhirat. Aamiin ya Allah ya Mujiibassailin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *